Disclaimer: Tulisan ini dibuat untuk tujuan edukasi dan tidak bertujuan untuk mendorong perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm). Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami hal serupa, carilah bantuan dari profesional kesehatan mental.


Ada saat ketika musuh terbesar kita bukan orang lain, bukan dunia yang terasa kejam, tapi... diri kita sendiri. Dalam keheningan malam, di tengah rasa bersalah yang menggantung, sebagian orang menemukan pelarian yang tak biasa: menyakiti dirinya sendiri.

Dorongan untuk melakukan self-harm, terutama sebagai bentuk "hukuman" atas kesalahan yang dilakukan, bukanlah hal yang jarang. Ia seringkali tersembunyi di balik wajah tenang, senyuman tipis, atau prestasi yang terlihat membanggakan. Dan ironisnya, banyak yang tidak menyadari bahwa tindakan tersebut bukan solusi, melainkan cerminan dari luka batin yang belum tertangani.

 

 

Apa Itu Self-Harm?

Self-harm, atau dalam bahasa Indonesia disebut melukai diri sendiri, adalah tindakan seseorang yang dengan sengaja menyakiti tubuhnya sendiri sebagai cara untuk mengatasi tekanan emosional, rasa sakit batin, atau perasaan yang sulit dijelaskan. Ini bukan sekadar "cari perhatian", tapi seringkali adalah tangisan sunyi dari seseorang yang merasa tidak didengar, tidak dimengerti, atau tidak berdaya.

Bentuk-bentuk self-harm sangat bervariasi. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Menggores atau memotong kulit dengan benda tajam
  • Membakar diri sendiri
  • Memukul atau membenturkan kepala
  • Menggigit diri sendiri
  • Menarik rambut hingga rontok
  • Bahkan, ada juga yang menyiksa diri secara psikologis, seperti memaksa diri membaca ulang pesan menyakitkan, atau menyimpan benda yang mengingatkan pada trauma masa lalu.

Yang perlu digarisbawahi dengan tebal dan hati-hati, self-harm bukan bentuk upaya bunuh diri. Meski pada beberapa kasus bisa berkembang menjadi pikiran atau niat bunuh diri, banyak individu yang melakukan self-harm sebenarnya ingin tetap hidup, namun tidak tahu bagaimana lagi cara menenangkan rasa sakit di dalam diri. Mereka tidak ingin mati. Mereka hanya ingin rasa sakit emosionalnya berhenti, walau hanya sesaat.

Self-harm kerap dilakukan dalam keheningan, di balik pintu yang terkunci, di sudut kamar yang gelap, atau saat malam sudah terlalu larut. Ia hadir ketika seseorang merasa:

  • Tak berharga
  • Penuh rasa bersalah
  • Benci terhadap diri sendiri
  • Overwhelmed dengan tekanan hidup, keluarga, sekolah, atau hubungan
  • Merasa kosong dan mati rasa, dan menyakiti diri adalah satu-satunya cara "merasa hidup" kembali

Perasaan yang menyertai self-harm sangat kompleks. Beberapa melakukannya karena ingin menghukum diri sendiri atas kesalahan yang mereka anggap fatal, meski terkadang itu hanyalah kesalahan kecil. Ada juga yang ingin mengalihkan rasa sakit emosional menjadi fisik, karena rasa sakit fisik dianggap lebih bisa dikendalikan.

Sayangnya… banyak orang yang mengalami ini takut untuk bicara. Mereka khawatir dianggap "lemah", "tidak normal", atau malah dicemooh. Akibatnya, mereka terus memendam luka yang lebih dalam dari yang terlihat. Luka yang tak berdarah, tapi memar di dalam hati.

 

Motivasi di Balik Self-Harm: Rasa Bersalah dan Hukuman Diri

Salah satu motif kuat yang mendorong seseorang menyakiti diri adalah rasa bersalah. Entah karena kesalahan besar atau hal kecil yang dianggap memalukan, rasa bersalah yang tidak ditangani dengan sehat bisa berubah menjadi monster yang menuntut "bayaran".

Bagi sebagian orang, menyakiti diri menjadi bentuk hukuman atas apa yang telah mereka lakukan atau pikirkan. Mereka merasa pantas dihukum, merasa gagal, atau bahkan merasa keberadaannya adalah kesalahan itu sendiri.

Beberapa pemikiran yang sering muncul:

  • "Aku harus membayar atas kesalahan ini."
  • "Kalau aku sakit, mungkin aku bisa tenang."
  • "Aku pantas menderita karena sudah mengecewakan orang lain."
  • "Kalau aku terluka, orang lain mungkin tahu aku sedang kesakitan."

Ini adalah bentuk coping mechanism yang muncul saat seseorang merasa tidak memiliki jalan keluar atau cara lain untuk menghadapi emosi negatifnya.

 

Dari Mana Dorongan Ini Datang?

Tidak ada satu penyebab tunggal. Dorongan untuk menyakiti diri biasanya datang dari kombinasi berbagai faktor, antara lain:

  1. Pengalaman masa lalu: Trauma, kekerasan, atau pengabaian di masa kecil bisa meninggalkan luka emosional yang dalam.
  2. Perfeksionisme: Standar diri yang terlalu tinggi membuat seseorang merasa gagal meskipun melakukan kesalahan kecil.
  3. Lingkungan yang menekan: Tekanan dari keluarga, sekolah, atau sosial media bisa menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.
  4. Kesulitan mengelola emosi: Tidak semua orang diajarkan cara mengekspresikan emosi secara sehat, sehingga mereka mencari cara-cara ekstrem.
  5. Masalah kesehatan mental: Depresi, kecemasan, borderline personality disorder, dan PTSD seringkali terkait dengan perilaku self-harm.

 

Mengapa Kita Perlu Mengerti, Bukan Menghakimi?

Ketika mendengar bahwa seseorang menyakiti dirinya sendiri, banyak dari kita merasa tidak siap. Reaksi spontan yang sering muncul adalah:

  • “Kok bisa sih kayak gitu?”
  • “Cari perhatian banget, deh.”
  • “Jangan drama, dong.”

Tapi coba bayangkan ini:

Ada seseorang yang sedang tenggelam. Ia panik, kehabisan napas, tak tahu cara berenang.

Lalu… bukannya ditolong, ia malah diteriaki:

“Kenapa sih gak bisa berenang?! Itu salah kamu sendiri kan?!”

Apakah itu akan menyelamatkannya?

Atau justru membuatnya semakin tenggelam, semakin merasa sendirian, dan… menyerah?

Itulah yang sering terjadi pada orang-orang yang melakukan self-harm.

Mereka tidak butuh amarah.

Mereka tidak sedang mencari drama.

Mereka sedang tenggelam... dalam rasa sakit yang tidak bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata.

 

Self-Harm Bukan Sekadar Luka, Tapi Bahasa yang Tak Terucap

Bagi sebagian orang, self-harm adalah cara terakhir untuk ‘berteriak’ tanpa suara.

Mereka tidak tahu bagaimana harus bilang,

“Aku hancur.”

“Aku kecewa pada diriku sendiri.”

“Aku butuh seseorang.”

Tindakan menyakiti diri menjadi simbol dari perasaan yang terlalu berat untuk disimpan, dan terlalu rumit untuk dijelaskan. Dan di sinilah kita perlu mengubah cara kita merespons.

Dari Menghakimi → ke Mendengarkan

Dari Menuduh → ke Memahami

Dari Menjauh → ke Mendekat

Empati bukan berarti kita membenarkan self-harm.

Tapi dengan memahami akar emosinya, kita bisa menjadi tempat aman bagi mereka yang sedang rapuh. Karena sering kali… satu orang yang mendengarkan tanpa menghakimi, bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk bertahan hidup.

 

Kita Tak Pernah Tahu Perjuangan yang Disembunyikan Seseorang

Di balik senyum, seseorang bisa menyimpan badai.

Di balik tawa, bisa ada luka yang dalam.

Dan di balik luka di kulit, bisa ada tangisan yang sudah lama tak terdengar…

Itulah mengapa kita perlu mengerti, bukan menghakimi.

Karena empati bisa menjadi jembatan—antara seseorang yang hampir menyerah, dan harapan untuk bertahan.

Kalau kamu kenal seseorang yang mengalami ini, cukup mulai dari:

“Aku nggak tahu apa yang kamu rasakan… tapi aku mau dengerin.”

“Kamu nggak sendiri. Aku di sini kalau kamu butuh.”

Kata-kata sederhana. Tapi bisa jadi tali penyelamat untuk hati yang nyaris tenggelam

 

Apa yang Bisa Dilakukan?

Jika kamu atau seseorang di sekitarmu sedang berjuang dengan dorongan menyakiti diri, berikut adalah beberapa langkah awal yang bisa dilakukan:

  1. Bicara dengan seseorang yang bisa dipercaya. Tidak harus langsung ke psikolog. Teman, guru, atau keluarga bisa menjadi titik awal.
  2. Tulis perasaanmu. Menulis bisa membantu mengurai emosi yang kacau dan memberikan jarak terhadap dorongan sesaat.
  3. Cari alternatif sehat. Contohnya seperti:
    • Menggambar atau mencoret-coret kertas.
    • Menggunakan es batu untuk sensasi dingin.
    • Memeluk bantal atau boneka dengan erat.
    • Berteriak di tempat sepi.
    • Tidur
  4. Buat jurnal pemicu. Catat kapan dorongan muncul, apa yang memicunya, dan bagaimana perasaanmu saat itu. Ini bisa jadi bahan refleksi dan bantuan untuk tenaga profesional.
  5. Jangan sendirian. Saat dorongan itu muncul, cobalah untuk bersama orang lain. Sekadar berada di ruang yang sama dengan orang lain bisa membantu menurunkan intensitas dorongan.
  6. Cari bantuan profesional. Psikolog atau psikiater dapat membantu mengurai akar masalah dan menawarkan pendekatan terapeutik yang sesuai.

 

Untuk Orang di Sekitar Mereka

Jika kamu adalah teman, keluarga, atau guru dari seseorang yang kamu curigai melakukan self-harm, berikut beberapa hal yang perlu kamu ingat:

  • Jangan menghakimi. Tunjukkan empati, bukan kemarahan.
  • Dengarkan lebih banyak. Biarkan mereka berbicara tanpa merasa diinterogasi.
  • Hindari komentar menyakitkan seperti "Kamu cuma cari perhatian" atau "Kenapa kamu begini sih, lemah banget".
  • Dukung mereka mencari bantuan profesional. Tapi jangan memaksa.
  • Jaga rahasia mereka, kecuali jika nyawa mereka dalam bahaya. Dalam kondisi seperti itu, carilah bantuan pihak ketiga.

 

Penutup: Berdamai dengan Diri, Meski Pelan

Menyakiti diri bukan hanya tentang luka di permukaan kulit, ini juga seringkali adalah suara hati yang lelah, tubuh yang menyimpan terlalu banyak beban, dan pikiran yang dipenuhi rasa bersalah tak berkesudahan. Tapi jika kamu pernah berada di sana, atau sedang berada di titik itu... kamu tidak sendirian.

Tak mudah untuk mengakui bahwa kita lelah. Apalagi saat dunia menuntut kita untuk kuat terus-menerus. Tapi mengakui kelemahan bukan berarti menyerah. Itu adalah bentuk keberanian.

Keberanian untuk jujur. Keberanian untuk sembuh. Keberanian untuk memilih hidup… meski pelan, meski tertatih.

Dan dalam proses itu, kamu berhak untuk:

  • Merasa gagal, tapi tetap bangkit.
  • Menyesal, tapi tidak menghukum.
  • Menangis, tapi tetap berjalan.
  • Tidak sempurna, tapi tetap dicintai.

Kamu bukan beban. Kamu bukan aib. Kamu bukan produk gagal.

Kamu adalah manusia, dengan semua luka dan keindahan yang kamu bawa.

Kalau hari ini terasa berat, tak apa. Istirahatlah. Tarik napas pelan-pelan.

Dan bisikkan ke diri sendiri, “Aku akan coba lagi besok.”

Karena setiap hari yang kamu lewati, meski penuh air mata, tetap berarti. Tetap bernilai. Tetap membuktikan satu hal:

Kamu bertahan.

Buat kamu yang sedang membaca ini…

Mungkin kamu belum bisa langsung mencintai diri sendiri.

Tapi asal kamu tahu, ada seseorang di dunia ini yang percaya kamu bisa sembuh.

Meskipun kamu belum percaya pada dirimu sendiri.

 


Catatan: Jika kamu atau orang yang kamu kenal mengalami dorongan untuk menyakiti diri atau merasa putus asa, segera hubungi layanan kesehatan mental di daerahmu atau konselor yang bisa dipercaya. Kamu tidak sendiri, dan bantuan itu ada.

 

Catatan Author:

Di balik tulisan ini, penulis bukan hanya berbagi… tapi juga sedang belajar.

Belajar untuk memaafkan diri sendiri.

Belajar menerima bahwa luka tak selalu harus disembunyikan.

Dan yang paling sulit adalah belajar mencintai diri sendiri, pelan-pelan…

…di tengah badai hidup yang seringkali datang tanpa aba-aba.

Tulisan ini bukan dibuat dari tempat yang sempurna.

Dia lahir dari hati yang juga sedang rapuh.

Dari jiwa yang sedang berjuang untuk bangkit, meski langkahnya gemetar.

Jika kamu merasa sedang tersesat, tertinggal, atau kehilangan harapan…

Percayalah, kamu tidak berjalan sendirian.

Penulis juga sedang ada di jalan itu, mencoba menemukan cahaya kecil di ujung terowongan.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pelukan lembut,

…atau setidaknya, menjadi bisikan hangat yang berkata:

“Kita mungkin belum baik-baik saja, tapi tidak apa-apa. Kita sedang menuju ke sana.”

 

 


Credit

  1. "black and white calendar on wall" by Paul Hanaoka on Unsplash, via https://unsplash.com/photos/black-and-white-calendar-on-wall-qgSf_u0EfBQ. (Under License : Unsplash License)

0 Comments

Leave a comment