a dirt field with a mountain in the background

Luasnya alam semesta sering memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan adanya kehidupan lain di luar Bumi, yang mendorong para ilmuwan meneliti Mars sebagai alternatif tempat tinggal, meskipun berdasarkan kondisi alamnya, planet ini telah dinyatakan tidak layak huni; namun, para astronom tetap melanjutkan eksplorasi, terutama untuk mencari keberadaan air sebagai sumber utama kehidupan.

Sangat dingin dan kering

Menurut informasi dari laman resmi NASA, Mars memiliki suhu yang jauh lebih rendah dibandingkan Bumi, bahkan mencapai ratusan derajat lebih dingin. Hal ini membuat Mars menjadi planet yang sangat dingin.

Selain itu, atmosfer Mars sangat tipis—sekitar seratus kali lebih tipis daripada atmosfer Bumi—yang berarti hampir tidak ada oksigen di sana.

Berdasarkan kondisi alam Mars saat ini, manusia tidak mungkin dapat hidup di planet tersebut. Namun, para astronom terus menaruh perhatian pada kemungkinan adanya bentuk kehidupan lain yang mampu berevolusi, serupa dengan proses awal evolusi kehidupan di Bumi.

Menariknya, terdapat bukti bahwa kondisi Mars di masa lalu lebih hangat, dengan keberadaan air permukaan cair yang stabil selama ratusan ribu tahun. Hal ini membuka kemungkinan bahwa Mars pernah memiliki kehidupan yang dapat berevolusi dalam lingkungan tertentu.

Meskipun demikian, laman Scientific American mengungkapkan bahwa meskipun Mars mungkin dapat dihuni di masa lalu, planet ini tidak pernah benar-benar mirip dengan Bumi. Mars selalu menjadi dunia yang unik dan berbeda.

Jika manusia ingin menciptakan kehidupan di Mars di masa depan, inspirasi dapat diambil dari karakteristik Mars di masa lampau, ketika diperkirakan memiliki kondisi yang lebih mendukung kehidupan.

Eksperimen untuk menciptakan kehidupan di planet Mars

Mars memiliki proses alami yang dikenal sebagai efek rumah kaca keadaan padat. Proses ini memanaskan lapisan es di bawah permukaan kutub Mars selama musim panas. Fenomena ini terjadi ketika cahaya tampak menembus material isolasi termal, menjebak panas di dalamnya sehingga menghasilkan pemanasan yang signifikan.

Fenomena tersebut menginspirasi para peneliti untuk mengeksplorasi potensi pemanasan di Mars dengan menggunakan lapisan material tembus cahaya di permukaannya. Salah satu material yang diuji adalah silica aerogel, material ringan dan isolatif yang sebagian besar terdiri dari udara (lebih dari 97%). Silica aerogel mampu menghasilkan efek rumah kaca yang kuat karena hampir transparan terhadap cahaya.

Hasil Eksperimen

Penelitian menemukan bahwa lapisan silica aerogel setebal 2–3 cm dapat menjaga permukaan Mars tetap hangat. Hal ini cukup untuk mendukung pertumbuhan alga atau tanaman, sekaligus melindungi dari radiasi UV yang berbahaya. Namun, silica aerogel memiliki kelemahan berupa struktur yang rapuh. Untuk perlindungan yang lebih kuat dan pengendalian tekanan, material ini perlu dimodifikasi atau dikombinasikan dengan material lain.

Selain itu, produksi silica aerogel di Mars menjadi tantangan. Salah satu pendekatan standar melibatkan pengeringan CO2 bertekanan tinggi, yang bisa memanfaatkan atmosfer Mars yang kaya CO2. Di sisi lain, organisme Bumi yang mampu memanipulasi silika pada skala nanometer, seperti spons kaca dan fitoplankton diatom, bisa diadaptasi untuk menghasilkan material serupa di masa depan.

Langkah Selanjutnya

Eksperimen ini akan diuji di lokasi-lokasi ekstrem di Bumi yang menyerupai kondisi Mars, seperti Gurun Atacama atau Dry Valleys di Antartika. Jika percobaan di lokasi-lokasi ini berhasil, hal tersebut dapat menjadi bukti bahwa pendekatan ini layak diaplikasikan di Mars.

Namun, tantangan besar lainnya adalah perlindungan planet. Setiap upaya membawa kehidupan ke Mars harus menghindari kontaminasi area yang mungkin menyimpan sisa-sisa kehidupan sebelumnya. Pendekatan regional dapat dikembangkan untuk meminimalkan risiko ini, tetapi pelaksanaannya memerlukan perencanaan yang sangat hati-hati.

Meskipun menciptakan habitat mandiri di Mars masih jauh dari kenyataan, eksperimen ini memberikan langkah awal yang menjanjikan menuju kehidupan di planet lain.


Credit

  1. Photo by Nicolas Lobos on Unsplash, via https://unsplash.com/s/photos/mars (Under License : Unsplash License free to use) 
  2. Photo by Vicky Vale on Unsplash, via https://unsplash.com/s/photos/mars (Under License : Unsplash License free to use) 

1 Comments

  • Image placeholder

    Yudo

    January 2, 2025 at 10:52 am

    wah jadi tidak sabar untuk hidup di planet lain

    Reply

Leave a comment